Jumat, 15 Juli 2011

Bank Indonesia mematok pergerakan SBI lebih besar dari inflasi. Uang pun digerogoti time value of money. Alasannya, pasar keuangan global - terutama pasar saham, sedang bearish, walau IHSG tidak ikutan terjun bebas seperti di Eropa. Senyum Pialang pun tidak seperti Monalisa karena terbayang capital-loss. Degup jantungnya bak roller coaster. ***** Ada 12 link ke sumber rujukan dalam satu paragraf di atas. Betapa enaknya menulis di dunia maya. Apalagi jika definisi setiap kata dan istilah dikutip juga dari Kamus Besar Bahasa Indonesia atau Wikipedia. Akhirnya, tulisan di dunia maya penuh dengan tautan dan kutipan online. Itu memang gaya gaul, yang ditulis iseng, namun tidak lupa memberikan apresiasi kepada sumber-sumber rujukan untuk setiap istilah atau pernyataan. Bagaimana jika media online dikutip pada artikel ilmiah ? Ada yang mengatakan, kalau sudah menjadi common sense atau menjadi public domain, tidak perlu sampai segitunya. Semua ada rujukannya, bahkan ditulis semua alamat situsnya di daftar pustaka. Namun, batasan common sense atau public domain bersifat relatif yang tergantung siapa target pembaca dari tulisan kita. Bukankah kita sering mendengar ucapan pembaca, “Gak, mudeng aku dengan kata-katanya, mumet bacanya!”, atau sebaliknya, “Kok postingan itu persis dengan tulisan di wikipedia ya!”. Boleh atau tidaknya mengutip sumber dalam bentuk Media Online tergantung dari kualitas dan relevansi isinya dengan tulisan kita. Repotnya, soal mutu tulisan, kita bisa berdebat. Jenis-jenis tulisan dan format konten dalam media online pun bermacam-macam. Bukankah jurnal ilmiah juga sudah banyak yang open content? Buku pun ada versi e-book-nya . Koran pun ada format e-paper - nya. Kuliah dari professor terkenal pun bisa ada videonya di youtube. Ada yang berpendapat bahwa sebagian besar konten di media online tidak relevan dan tidak bermutu sebagai sumber rujukan untuk tulisan ilmiah. Namun bukan berarti kita tidak boleh mengutip media online dalam tulisan ilmiah. APA Style pun sudah membuat standar pengutipan dan penulisan daftar pustaka untuk sumber rujukan dari internet. Jadi, boleh kan. Sekali lagi ini tentang kriteria mutu saja yang bisa berbeda- beda antar penulis atau institusinya masing-masing. Sangat menarik jika mengutip pendapat Chelsea Lee pada Blog APA (American Psychological Association) dengan judul “How to Cite Something You Found on Website in APA Style”. Beliau menganggap Internet sebagai telor ceplok, dan berbagai jenis konten di Internet dianggap berbeda-beda posisi dalam telor di bawah ini. Apakah anda suka telur putih, atau kuning telornya saja? Atau memang kita tidak suka telor ceplok. Toh sumber protein tidak hanya telor.